LAGU MAHASISWA-BOROH>TANI-RAKYAT

Buruh, tani, mahasiswa, rakyat miskin kota

Bersatu padu rebut demokrasi

Gegap gempita dalam satu suara

Demi tugas suci yang mulia

Hari-hari esok adalah milik kita

Terciptanya masyarakat sejahtra

Terbentuknya tatanan masyarakat

Indonesia baru tanpa Orba

Marilah kawan mari kita kabarkan

Di tangan kita tergenggam arah bangsa

Marilah kawan mari kita nyanyikan

Sebuah lagu tentang pembebasan

Di bawah kuasa tirani

Kususuri garis jalan ini

Berjuta kali turun aksi

Bagiku satu langkah pasti

Dan ini lirik aslinya:

Buruh, tani, mahasiswa, kaum miskin kota

Bersatu padu rebut demokrasi

Gegap gempita dalam satu suara

Demi tugas suci yang mulia

Hari-hari esok adalah milik kita

Terbebasnya massa rakyat pekerja

Terciptanya tatanan masyarakat

Demokrasi sepenuhnya

Marilah kawan mari kita kabarkan

Di tangan kita tergenggam arah bangsa

Marilah kawan mari kita nyanyikan

Sebuah lagu tentang pembebasan

https://pinangpress.com/wp-admin/post-new.php

ANAK MUDA MEMIMPIN MASA DEPAN MALAYSIA

Saya pun mengarang puisi “Ingin Jadi Muda”, bunyinya begini:

Muda sesungguhnya pengertian budi
Muda sepertinya terlihat ada pekerti
Muda sedia membujur lalu melintang patah, kalau tua
membujur lalu melintang pukang.

Siapa dia bilang muda akan selalu terburu-buru
kalau ketika nabi digelar al Amin, baginda sesungguhnya masih muda.
Ketika Isa berkorban di kayu salang, al Masih juga muda.
Kita tahu Ali masih muda tatkala
menjadi remaja pertama untuk beragama.

Siapa dia kata muda mesti liar, angkuh dan cepat menghukum
Kalau Jose Rizal yang belia berani menahan dada dengan peluru.
Atau andaikan saja muda itu Shamsiah atau Kartini,
boleh jadi Ishak, atau muda persis Burhanuddin Al Helmy.

Muda tidak mesti tergesa-gesa,
dan cepat menghukum kerana muda penuh pertimbangan hari,
jika teliti merenung semalam.

Muda sentiasa masa hadapan kalau buntu masa silam.
Muda sentiasa tersedia bila yang basi terpaksa ditolak tepi.
Muda tidak mesti menjadi Tuah sanggup mengkhianati teman.
Muda tidak juga mesti selagak Jebat mengamuk untuk menjadi hebat.
Muda akan dan boleh juga Sri Jayanasa membuka Srivijaya, memimpin empayar.

Muda juga waras, berilmu dan segak,
seperti muda juga anggun, menggugah dan berentak.
Datuk nenek kita Jawa, Bajau, Hakka, India;
atau Yamani dan Parsi datang dari jauh
ke negeri ini untuk berbakti kepada bumi, jatuh cinta dan menetap di sini
lantas menumpah darah dan air mata menghabis usia muda keramat mereka.
Datuk nenek kita pernah muda
bergabung kudrat bersama-sama Iban, Kadazan, dan Melayu.
Muda ingin menebus dosa dulu,
memohon keampunan kepada Semai Jakun peribumi asli.
Muda ingin hidup bersama dan tidak lagi bermimpi.
Muda perempuan atau lelaki, melindungi kaum minoriti
merebut semula negara yang jahanam dilenyek lindas kleptokrasi.

Muda ingin memberi kepada yang berhak
kerana muda percaya nikmat berkongsi.
Muda adalah warisan nusa bangsa
maka mengapa tidak muda diberi pilihan menentukan hari ini.
Muda datang tidak dari terpilih-pilih kerana muda ingin merangkum semua
aneka kepercayaan seperti termaktub dalam rukun negara,
aneka budaya dan warna setelah tertulis dalam perlembagaan kita.

Muda bukanlah peluang untuk dipersia-sia.
Muda ternyata gelombang alami fitrah dunia.
Muda juga tujuan kita di akhirat sana,
kerana di syurga kita semua muda.
Tetapi muda tidak seperti mereka ingin menjaja agama,
muda tidak mahu hilang cita-cita lantaran kuasa.

Muda adalah demokrasi bukan tua demikerusi.
Muda mesti sekarang
Muda mesti masa ini
Muda adalah tenaga dan gengsi
Kerana muda adalah masa.
Muda masa kita.

MERDEKA PULAU PINANG

The Merdeka of Pulau Pinang

By Datuk Dr Ahmad Murad Merican
August 24, 2020 @ 12:01am

AddThis Website Tools
The Merdeka of Pulau Pinang
A man cycling in Butterworth on Sunday Aug 23, 2020. Pulau Pinang already had a vibrant society, way before the recorded date of Aug 11, 1786, when an English country trader raised a flag at Tanjong Penaga and claimed the island. – Bernama pic

ANOTHER year of Merdeka. But not quite of the past; but of the “uncertainty” of our engagement with history — of statues and place (and road) names; of hills with earlier names, or with no names. Is Merdeka moving forward to the future, or returning to the “uncertainty” of the past?

I’m returning to a familiar theme, much written, in modern Malaysia, especially over the last two decades. Revisiting the history of the earliest communities, who inhabited the island of and off Kedah before 1786, remains an imperative role for the writing of Malaysian history.

It must be remembered and be reminded that the history of Pulau Pinang did not start from 1786. The rewriting of the nation’s history must revisit, rewrite and decolonise that narrative.

The island was believed and judged to be terra nullius (uninhabited). This is the template constructing the history of Malaysia also — from the early 1800s colonial courts, to school textbooks to public history.

Pulau Pinang is, of course, not alone. Parallels are seen with the history and historiography of Singapura.

Circumstances are different. Yet, Pulau Pinang is as history starved as her counterpart down south. I have used the term “pengemis sejarah” (beggars of history) in my earlier writings on the history of the island. Tales from East India Company (EIC) and Colonial Office records were the mantra. C.M. Turnbull’s story

of Singapore 1819-1975, had framed Singapore’s history as a positive outcome of British colonialism.

To accept that template as a fact of history itself falsifies the past. To be sure there are many roads to the past. The historical narrative is also an argument. Colonial archives are certainly biased. So are our historians, custodians of heritage and policymakers.

Colonialism is never benign. What happened in 1786, is what can be termed the conquest of Pulau Pinang. There was no treaty. The colonial past does not preclude what tantamounts to criminality. But Light did not commit murder. Stamford Raffles did. The likes of the Raffles massacre in Palembang and Banjarmasin Affair involve the criminality of the colonial state.

On the former, a letter from Raffles for the extermination of the Dutch reads, “…buang habiskan sekali-kali segala Belanda dan Residentnya… Jangan kasi tinggal lagi (…must throw away, finish entirely all the Dutch people and their Residents… Do not allow them to stay)”.

We have not “buang habiskan” that narrative. We are civil, not vandals, like the Germanic tribe of that name who once roamed and plundered (vandalised) Europe in the fourth and fifth centuries.

Pulau Pinang already had a port, and a vibrant society, way before the recorded date of Aug 11, 1786, when an English country trader raised a flag at Tanjong Penaga and claimed the island by renaming it George Town, replacing Tanjong Penaga (the site at Padang Kota Lama), and Prince of Wales Island (somewhat stillborn) to replace the name Pulau Pinang.

Some 20 years later, after the implementation of the so-called Charter of Justice 1807, the Pulau Pinang courts held that in order to provide justice to the natives of the state, the lex loci of Penang should be the English Common Law and the rules of Equity applicable in England.

On the contrary, the Sultan of Kedah, Sultan Abdullah Mukarram Shah, claimed that he was merely allowing the British to occupy a part of the island while taking care of the sultan and his kingdom against his enemies, especially Siam. To the sultan, Pulau Pinang was never given away to the British.

These were also retold in a paper titled Lifting the Veils: The Mystique (Mistake) of Penang Legal History, at Seminar Ahmad Ibrahim in 2007. The paper raised the problem of legal historical discrepancies surrounding the British occupation of Pulau Pinang with a plethora of questions.

It has always been claimed that the legal history of Malaysia, in general and Pulau Pinang, specifically, begins with the occupation of the British of the island in 1786 and the three Charters of Justice: 1807, 1826 and 1855.

The authors cited legal scholar, the late Professor Ahmad Ibrahim, who said that this has to change — that Pulau Pinang legal history did not begin from 1786. There was a legal system in existence on the island prior to 1786, observed from the way of life of the local inhabitants.

The application of Islamic Law modified by Adat Temenggong could be seen in the law of marriages and divorce, the payment of tax, law of property, transaction, types of offences, either in civil and criminal, maritime rules, the sultanate kingdom and the administration of society.

The Islamic law modified by Adat Temenggong should have been the lex loci of Pulau Pinang. Merdeka. But, whose past, unapologetically distorted; and whose legal history?


The writer is a professor at International Institute of Islamic Thought and Civilisation, International Islamic University of Malaysia and visiting professor at the Centre for Policy Research and International Studies, Universiti Sains Malaysia

MERDEKA PULAU PINANG DI MANAKAH TAPAK WARISAN PRIBUMINYA?

KEPALA BATAS: Unit Penyelarasan Pelaksanaan Jabatan Perdana Menteri (ICU JPM) diminta mengambil peranan untuk memastikan Kampung Batu Uban yang telah wujud seawal tahun 1734 agar dipertahankan dan diwarta sebagai kampung warisan.

This image has an empty alt attribute; its file name is IMG-20200906-WA0025-324x235.jpg



Setiausaha PAS Negeri Pulau Pinang, Iszuree Ibrahim berkata, keberadaan Kampung Batu Uban telah menjadi penempatan dan pelabuhan Melayu terawal Pulau Pinang, bahkan lebih awal dari kedatangan Kolonial British Francis Light pada 1786.

Namun menurutnya, tanah kampung Melayu itu kini hanya berbaki suku apabila tiga perempat daripadanya telah diambil alih oleh pemaju Era Kemas, kemudian Asia Green dan Ivory Properties Group Berhad bagi menaikkan kondominium baharu di tanah itu.

Kesali beliau, semua perobohan kediaman dengan mengambil alih tanah tersebut berlaku di bawah pemerintahan Kerajaan DAP Pulau Pinang, sedangkan sejak zaman Pakatan Rakyat lagi berjanji untuk mewartakan warisan yang ada di negeri ini.

Menurut Iszuree juga bekas Ahli Majlis Bandaraya Pulau Pinang yang dipecat DAP, gesaan tersebut sentiasa disuarakan PAS Pulau Pinang selaras janji Manifesto Pakatan Rakyat, termasuk mengemukakan memorandum kepada Kerajaan Persekutuan.

Memorandum berkenaan telah diserahkan dalam pertemuan bersama dua Menteri yang pernah menerajui portfolio kebudayaan iaitu Tan Sri Dato’ Seri Utama Dr Rais Yatim dan Dato’ Seri Mohamed Nazri Abdul Aziz.

“Kondominium bernilai tinggi harganya ini tidak menguntungkan kampung warisan Melayu. Sudah tentu yang akan hadir menduduki kondominium ini terdiri daripada bangsa DAP. Yang dapat kita lihat, Masjid Batu Uban juga sudah hilang jemaahnya,” ujarnya.

Menurut beliau lagi, Kerajaan DAP Pulau Pinang juga dilihat sengaja menangguhkan rumah-rumah ganti dari akujanji pernah diberi Timbalan Ketua Menteri, Dato’ Mansor Othman dahulu, serta segala pembangunan pernah diperjuangkan sebelum ini.

“Tanah pun telah dikenalpasti dan sebagainya, tetapi pembangunan yang kononnya rumah ganti rumah itu terbantut, dan senyap terus.

“Akhirnya penduduk yang sepatutnya dibawa balik ke dalam kampung khususnya untuk diisi dalam flat ganti rumah itu akhirnya telah terpelanting keluar bila mana janji-janji itu semua tidak dikotakan,” katanya.

Sehubungan itu ujarnya, PAS Pulau Pinang telah mengemukakan alternatif dengan cadangan supaya kem tentera bersebelahan Kampung Batu Uban diambil alih dan dibangunkan di bawah ICU JPM bagi mengelakkan kampung itu terus lenyap.

Hal tersebut juga terangnya, memerlukan kem tentera tersebut dipindahkan ke Tanah Persekutuan di lokasi lebih sesuai dan strategik memandangkan kedudukannya di situ tidak lagi bersesuaian setelah bertapak sejak tahun 1960-an lagi.

“Kalau DAP boleh mewujudkan zon warisan dunia di Georgetown, semata-mata untuk memastikan warisan-warisan British dan juga China yang telah bermastautin di situ sejak tahun 1800 lebih tidak dimusnahkan, malah dipelihara lagi, kenapa tidak warisan lain?” soalnya. – HARAKAHDAILY 6/9/2020Advertisement

ADAKAH PROJEK PSR AKAN DITERUSKAN WALAU PUN IMPAKNYA AKAN MEMUSNAHKAN ALAM SEKITAR SECARA KEKAL?

Meninjau perjalanan antara dua Teluk dari Teluk Kumbar ke Telok Bahang menyaksikan berapa banyak kampung kampung nelayan telah di musnahkan selepas 60 >>Merdeka. Semuanya berlaku apabila bertembong dengan PEMBANGUNAN. Demi Pembangunan adakah kita terpaksa mengorbankan segala nya. Canada maju, Jepun lebih-lebih lagi ke depan. Adakah mereka mengorbankan segala. Model pembangunan ala Malaysia harus dikaji semula. Satu satunya negara di dunia yang paling tidak peka dengan alam sekitar terutama PP selepas 12 tahun diperintah oleh PR kemudian ya PH. Suara daripada pejuang pejuang alam sekitar yang khuatir tentang kemusnahan alam sekitar dan peluang rakyat mendapat bahagian dalam pembangunan seimbang ditulikan. Yang penting bagi mereka bukan kebajikan Dan penyertaan rakyat dalam pembangunan tetapi FDI. Ini kegilaan para politik yang menagguk di air yang keruh. Pantai, laut, paya bakau hendak dikambus. Bukit hendak ditarah, dibotakkan dan dipotong dengan sewenangnya. Jadi dimanakah bahagian rakyat dalam pembangunan kerana rumah rumah dibina untuk pasaran dunia. Negara ini sedang dijual kepada orang luar dan pelabor asing TANPA kawalan. Jadi pembangunan ini untuk apa dan kepada siapa? Kawasan yang dulunya kawasan nelayan sedang diganggu gugat. Nak letak sampan pun terganggu apabila laut ditambak dan dibina kondo mewah yang eksklusif. Justeru dimanakah bahagian rakyat dan anak negeri? Di manakah zon peri kanan, paya bakau tempat ikan bertelur dan membesar. APAKAH itu semua BUTA di mata ahli politik dan perencana pembangunan? Model apa yang sangat gelojoh dan kasar yang mereka sedang ikut? Terima kasih kepada SM Idris pejuang yang bangkit kesedaran betapa rakus dan ganasnya orang politik terhadap pembangunan yang mengutama Jan fizikal dan keuntungan semata-mata.

PROJEK PSR DI SELATAN P.PINANG MALA PETAKA KEPADA NELAYAN PANTAI,HIDUPAN LAUT FAUNA DAN FLORA:DI MANAKAH KEWAJARAN MEMPERTAHANKANNYA ?

Kerajaan negeri PP berdegil mempertahankan projek PSR walau pun terdapat bantahan keras daripada nelayan pantai,NGO NGO alam sekitar dan suara waras betapa bahayanya projek ini kepada kazanah alam terakhir di Pulau Mutiara ini.Satu-satunya warisan kazanah alam terakhir yang masih berbaki di P.Pinang.Ini pun akan dikorbankan demi untuk pembangunan 3 buah pulau buatan. Demi ketamakan pemaju mengorbankan alami sekitar untuk keuntungan mereka.Itu pun untuk menggamit para pelabor dari luar negara – Hong Kong, China, Taiwan, Korea,Jepun dan seantero dunia.Projek ini sudah tentu tidak ada kena mengena dengan rakyat.Bahkan nelayan pantai akan dikorbangkan.Laut yang kaya dengan hasil laut akan dikambus demi untuk ditukar dengan bangunan yang menggamit USD, Found Sterling dan Yuan.Inilah arah ekonomi yang terlalu ghairah dengan pelaboran asing sebagai nadi penggerak ekonomi negeri.Ekonomi rakyat bukan keutamaan lagi.Tahukah orang politik yang menjelang PRU akan ghairah melobi undi rakyat kononnya mereka wakil rakyat demi kepentingan publik. Bahawa mereka pemimpin yang penuh kepuraan. Bahawa amanah menjaga kazanah alam anugerah Allah rabbul alamin sedang dikhianati. Ekonomi buatan kegelojohan memusnahkan alam sekitar untuk ditukar dengan hutan batu batan ini tidak ada kena mengena dengan kehidupan rakat.Malahan jelas menzalimi kehidupan mereka. Aktiviti kenelayanan kini sedang dimusuhi dan bakal dilenyapkan. Mengapa ? Ekonomi tradisi membekal makanan bekalan ikan segar untuk rakyat P.Pinang tidak penting. Ia akan ditukar demi untuk ekonomi material, bentuk ekonomi buatan dalam bentuk bangunan untuk menkayakan segelintir pemaju dan pihak yang berkepentingan yang meluluskannya. Adakah ini bermaksud kita tidak perlu ikan segar,sotong,udang ketam,laut,pantai,flora dan fauna demi untuk kehidupan manusia lagi.Pembangunan mesra pemaju inilah yang menjadi pemangkin ekonomi kerajaan negeri kini. Ekonomi yang terlalu mesra dengan pemaju kononnya untuk kemakmuran negeri walau pun mengorbankan kepentingan penghidupan rakyat iaitu nelayan pantai.Soalnya apa yang rakyat dapat? Rakyat sebenarnya menjadi mangsa pembangunan rakus yang sangat rakus terhadap alam.Laut,pantai, bukit bukau,paya bakau fauna,flora, nelayan adalah kazana warisan alam yang zaman berzaman yang perlu untuk dipelihara dan dipulihara demi kehidupan manusia. Ia bukan sesuatu yang dijadikan untuk tujuan yang sia-sia. Jika ditinjau setelah 60 tahun merdeka kita buta menduga bahawa bentuk ekonomi rakus yang terlalu pro pemaju dan bersifat komersial inilah akan mengambil tempat dalam pola pembangunan negeri.Satu Malaysia asyik nak menambak laut tanpa memikirkan impaknya terhadap alam sekitar dan rakyat. Juga flora dan fauna.Pelaboran luar jadi keutamaan walau pun impaknya berat menekan rakyat.Rakyat terhindar daripada daripada bentuk pemvangunan mewah yang melampau kerana di luar keupayaan mereka untuk terlibat.Fenomena ini semakin menjadi jadi. Para politikus mendakwa diri sebagai wakil rakyat tetapi tidak peka dengan ekonomi komersial yang menekan rakyat.Lebih malang lagi mereka seperti tidak ada kena mengena dengan keluh kesah hak nelayan pantai untuk terus bertahan dan hidup. Sedangkan mendakwa sebagai wakil rakyat tetapi berpihak kepada pemaju.Atau ada yang menjawab saya tidak berpihak kepada nelayan atau pemaju.Inilah kepalsuan dan kepuraan yang paling dahsyat sekali.Mereka mendakwa perjuangan mereka demi KEADILAN RAKYAT.Bila nelayan minta simpati seperti tidak mengerti.

Telah nyata kerosakan di darat dan di laut oleh perbuatan dan aktiviti tangan tangan manusia, akhirnya Allah menimpakan sebahagian akibat hasil kerja tangan mereka, moga moga mereka kembali insaf atas kerosakan yang dilakukan – maksud surah Ar Ruum 30 : ayat 41

DASAR EKONOMI NEGARA PASCA COVID 19: APA YANG HARUS DIBUAT ?

MALAYSIA : HALATUJU DASAR EKONOMI PASCA COVIT 19

COVID 19 benar-benar menguji dan mengajar kita. berhadapan dengannya kita tidak boleh berbohong lagi. Bahawa jika kita coba menyorok kelemahan asas -asas ekonomi kita, negara akan menghadapi masalah dan krisis ekonomi yang parah untuk mengangani dan keluar daripadanya.Beranikah kita mengakui ada ketempangan pada dasar dasar ekonomi yang pegang selama ini. Mengapa ? Pengukur ketahanan ekonomi kita ialah COVID 19. Jelas di sebalik bencana ada hikmah dan pengajaran. Memang kita maju sehingga digelar Harimau Asia. Jika benar Harimau Asia mengapa Singapura mendahului kita. Nilai wangnya dan Brunei yang tak banyak heboh itu 3 kali ganda melebihi kita.

Marilah kita berani menilai ,mengukur dan mengakui halatuju dan kedudukan ekonomi kita yang sebenar di mana kekuatan dan kelemhannya. Tujuannya untuk bangkit semula di atas atas kukuh dan sebenar selepas ditimpa bencana COVID 19 yang menggerunkan ini. Malaysia selama ini menjadi contoh negara yang timpa perasan, mengada-ngada,silau dan berpandangan singkat dalam membina ekonominya secara seimbang,realistik dan berpijak di bumi nyata. Mengapa ?

Selepas tahun 1980an, selepas peninggalan Tun Razak ekonomi kita telah berubah kepada perindustrian secara gencar sehingga mengabaikan sektor pertanian yang dibiarkan lesu. Sedangkan pertanian adalah tulang belakang ekonomi dunia. Kita tetiba menjadi negara yang terlalu ghairah mengutamakan penglibatan korporat untuk menerajui sosio ekonomi negara dan mengabaikan usaha membangunkan ekonomi rakyat luar bandar yang wajar diangkat martabatnya sebagai petani moden, usahawan ,pengilang kecil dan pembangun keperluan makanan negara.

Jelas kita terlalu pro pelaboran asing, terlalu ghairah dan terdedah dengan ekonomi gelembong “bubble”, ghairah dan amat terdedah dalam ekonomi buatan mainan spekulasi di pasaran saham, kecenderongan keterlaluan terhadap industri yang mengorbankan kelestarian alam sekitar, ketergantungan keterlaluan terhadap import bahan makanan, pembangunan mewah yang mengutamakan orang asing dan mengkesampingkan perumahan mampu milik, kecundang dalam dasar mempastikan food and feed security dll pengabaian yang semakin ketara akibat diuji dengan pendemik COVID 19. Sektor=sektor ini seakan-akan terkejut dan kaget dengan serangan wabak ini secara mengejut.

Hakikatnya kita kehilangan arah dan halatuju apabila dasar ekonomi yang diagong- agongkan itu terhenti beroperasi dalam menjamin ketahanan ekonomi negara kelak dalam masa yang singkat pasca COVID ini.Sudah tentu iannya akan terkesan terhadap rakyat jelata. Ketahanan ekonomi kita yang selama ini dianggap mantap dan stabil akan benar-benar diuji sejauh mana daya tahannya menyerap krisis yang bersifat global ini. Jaringan ekonomi menjadi lumpuh dan tidak mudah membangunkan semula dalam masa yang singkat. Rahmatnya ialah mahukah kita menilai asas ekonomi lama yang rakus sebelum ini kepada ekonomi yang lebih adil,terbuka,tidak monopolistik dan saksama untuk seluruh umat manusia.

Kerajaan menyatakan akibat wabak ini negara kehilangan puluhan RM bilion sehari. Mengapa terjadi begini ? Kesannya amat berat pada kutipan hasil cukai yang menjadi nadi hasilnegara. Perlu diingat sebelum ini kita telah melalui berbagai krisis ekonomi tetapi berjaya melepasinya dengan berjaya. Krisis yang mendepani kita ini sangat pelik dan menggerunkan. Tidak pernah melanda kita. Seluruh negara tergamam dan benar-benar menguji daya tahan kita untuk bangkit semula di atas asas yang betul,kukuh dan real.Bukan ekonomi buatan lagi. Hasil manipulasi golongan korporat, pemodal,spekulator dan elit ekonomi yang haloba. Hanya negara dan bangsa yang memiliki kepimpinan yang real,teguh,bijaksana,bersifat terbuka, amanah dan punyai daya tahan yang luar biasa akan berjaya di bawah tatanan ekonomi baru dunia. Insya Allah dengan petunjuk Allah kita dapat keluar daripada bencana yang menggerunkan ini apabila kembali kepada landasan Ilahi Rabbi. Bahawa limpahan kazanah alam ini untuk semua bukan segelintir pemonopoli yang selama ini mendominasi ekonomi dunia.

Kita wajib menganalisis asas dan dasar-dasar ekonomi yang kita pegangi selama ini dengan totok sebagai terbaik dan unggul tanapa cacat cela dalam membina ekonomi dan ketahanan negara dan rakyat kita dimasa depan. Nyata akibat dasar yang terlalu mengutamakan pasaran bebas secara sewenang – wenang ,ekonomi yang terlalu terbuka terhadap pasaran bebas,ketergantungan keterlaluan terhadap pelaboran luar yakni FDI, pengabaian terhadap sektor pertanian dan perkhidmatan awam yang terlalu besar dll telah membebankan negara sehingga terpaksa berhutang hampir RM 1 trilion.Siapakah yang membayarnya kalau bukan rakyat 30 juta ini. Bagi golongan peniaga cukai yang dibayar boleh dipungut semula dengan meletakkan dalam kos barangan dan keuntungan hasil jualan .Rakyat terutama pekerja tidak ada tempat untuk mengelak apabila harga barang naik akibat inflasi.Ia menghisap pendapatan mereka dan menghakis kuasa beli.

Hkikatnya selepas 6 dekad merdeka terbukti selama ini kita tidak ada dasar yang mempastikan food and feed security yang selamat . Mengapa kita mengimport segala keperluan makanan daripada luar negara ? Kononnya membeli lebih murah daripada mengeluarkannya sendiri. Statistik menunjukkan ketergantungan kita terhadap import makanan adalah sangat tinggi.Saban tahun negara mengimport bahan makanan manusia dan haiwan antara RM 50 bilion hingga RM 70 bilion setahun. Sedangkan akibat ketergantungan terhadap import bahan makanan secara berlebihan harganya semakin melambong.Rakyat terkesan dengan kenaikan harga barangan makanan yang semakin mahal. Harga terus meningkat kerana kejatuhan nilai RM. Rakyat semakin terjerut akibat kekurangan pendapatan bila harga getah dan sawit merudum, pendapatan negara semakin berkurangan apabila harga petrol dan sawit menyusut. Pokoknya adakah eknomi kita berada di atas landasan yang betul dan di atas asas yang kukuh yang selama ini amat dibangga-banggakan dan diwar warkan dengan gah dan gempita.

Adakah kita baru tersedar di mana selama ini bahawa kita telah mengabaikan sektor pertanian yang menjadi menjadi tulang belakang ekonomi dunia. Negara-negara maju seperti Eropa dalam EU seperti Holand, Itali dan Jerman, Ekonomi terbesar AS,Rusia,Turki, Taiwan, Korea, Jepun, Australia, New Zealand dll pun tidak mengkesampingkan dasar FOOD and FEED security untuk rakyat terbanyak. Akhirnya apabila ditimpa bala dan musibah ini, ekonomi kita jadi demam dan mungkin terus tergamam kerana kehilangan arah bagaimana hendak menanganinya di masa susah yang tidak sama .seperti sebelumnnya.

Sedarlah selama 60 tahun lebih merdeka kita gagal mengadakan keperluan bahan bahan makanan yang mencukupi dan murah untuk rakyat jelata.a.Kita punyai ratusan ribu hektar tanah di bawah pelbagai agensi tetapi terbiar. Jika berjalan sepanjang leboh raya jelas ribuan hektar tanah terbiar begitu sahaja tanpa ada usaha untuk penternakan dan penanaman bahan makanan.Dasar mengimpor perlu dikaji semula. Segalanya diimport. Daripada beras,daging, tenusu, buahan,asam jawa, ikan, makanan manusia dan makanan binatang, bahkan kelapa pun diimport juga dari Indonesia. Cabai dari Vietnam, pisang dari Filipina dan keledek dari Jepun.

Hakikatnya mengapa kita gagal mengadakan keperluan beras yang cukup untuk negara.Jumlah rakyat kita kecil sahaja. Hanya seramai 33 jura penduduk sahaja. Sedangkan India yang berpenduduk 1,300 juta manusia punyai lebihan beras sehingga mampu mengeksport beras bermutunya “basmathi”Begitu dengan daging. Nyata Covid 19 di sebalik musibah ada hikmahnya kepada Malaysia.Hakikatnya sosio -ekonomi dan politik kita tidak berada di atas asas yang kukuh. Segala-gala asas ekonomi kita masih tertumpu kepada pelaboran asing tanpa memanfaatkan kelebihan kita untuk memproses hasil bumi dan keluaran kita menjadi barangan siap.

bSebagai contoh kita mempunyai getah tetapi gagal menjadi pengeluar barangan getah terutama tayar kenderaan yang utama di dunia.Kita mempunyai balak tetapi gagal menjadi pengeluar perabot yang tersohor, kita mempunyai bauksit tetapi menjual tanah bauksit secara mentah tanpa memprosesnya. Begitu jika diteliti banyak bahan mentah kita yang dijual secara murah kepada negara luar terutama Singapura yang memprosesnya menjadi barangan siap.Jadi apakah dasar ekonomi kita yang rapuh sebelum ini akan digubal dengan dasar ekonomi baru yang lebih kukuh pasca COVID 19 yang menginsafkan ini ?

Jika masih kekal dengan dasar lama alamat Malaysia akan corot ke belakang. Kita kini agak ketinggalan berbanding dengan keegreripan ekonomi Vietnam, Thailand, Indonesia dll.Jadi jolokan Malaysia sebagai HARIMAU ASIA adakah benar-benar kuasa ekonomi yang digeruni dan unggul atau sekedar gimik seumpama harimau kertas semata-mata. Fikir -fikirkanlah demi masa depan negara.Masa depan negara bukan bergantung semata-mata pada percaturan dan sepak terajang ahli politik dan manipulasi spekulator elit korporat semata-mata. Kebijakan ahli profesional, ilmuan dan kebijakan anak semua bangsa mesti digembling untuk digarap dalam membina Malaysia Baru pascaCOVID 19 yang mesti dihadapi dengan tenang dan teguh demi masa depan Malaysia.

TUAN IBRAHIM TUAN MAN KAJI SEMULA PSR-BAKAL MELINGKUPKAN NELAYAN PANTAI !

Tuan Ibrahim diminta batalkan Projek Tambak Laut

 Gago Daily  3/12/2020 03:50:00 PM

Oleh Wan Noor Hayati Wan Alias
KUALA LUMPUR : Bekalan ikan untuk rakyat di utara tanah air terus menyusut 50 peratus berikutan kegiatan mengorek pasir untuk projek tambakan laut di perairan selatan Pulau Pinang (PSR).
 Pengerusi Persatuan Nelayan Pulau Pinang (PEN Mutiara), Nazri Ahmad, berkata ketika ini lebih 14,000 nelayan dari Pulau Pinang dan utara Perak mengadu hasil tangkapan mereka semakin berkurang akibat kegiatan korek pasir dan tambak laut itu.
  “Jika kegiatan ini berterusan kita akan kekurangan sumber protein untuk rakyat malah terpaksa bergantung kepada bekalan ikan yang tidak segar diimport dari luar.
   “Ketika ini lebih dua bilion tan ikan setahun didaratkan, tetapi jumlah itu semakin menyusut hingga satu bilion tan setahun selepas kegiatan korek pasir semakin rancak berlaku.
   “Beberapa laporan polis sudah dibuat membabitkan ternakan hidupan akua mati di Teluk Pahang sehingga jutaan ringgit,” katanya kepada wartawan.
  Pelaksanaan PSR dengan keluasan lebih 1,821 hektar untuk membina tiga pulau buatan di perairan Permatang Damar Laut berdekatan Bayan Lepas memerlukan 189 juta meter padu (m3) pasir.
  Bagi memenuhi keperluan itu kegiatan korek pasir akan membabitkan keluasan 818 kilometer persegi pasir khususnya di utara Perak. 
  Dalam pada itu, kegiatan kecurian pasir juga berlaku untuk memenuhi keperluan projek berkenaan.
   “Kegiatan korek pasir, curi pasir sukar untuk dibuktikan tetapi kita boleh lihat kesannya, contohnya ekosistem musnah, hidupan laut mati, ternakan ikan mati, kawasan darat semakin mengecil contohnya Pulau Korea hilang jika dilihat dari jambatan Pulau Pinang.
   “Projek PSR dijangka mengambil masa sehingga 50 tahun dan kita akan menyaksikan kemusnahan alam dan hidupan laut yang dahsyat di negara ini,” katanya.

KABINET MENTERI SEBENARNYA CERMINAN KITA!

SIAPA YANG BODOH?

Kita dapat kerajaan yang bodoh sebab kita yang bodoh. Kita dapat kerajaan korup sebab kita pun korup. Kita dapat kerajaan penipu sebab di kalangan kita ramai penipu. Kita kena insaf kerajaan itu cerminan diri kita sendiri. Oleh itu kalau kita nak buat perubahan kena sabarlah. Tak boleh serta merta dapat kerajaan yang baik. Buat sementara itu kita terimalah kerajaan yg tak berapa cerdik, tak berapa bersih dan tak berapa betul. Kita kena sabar dengan kekurangan itu kerana kekurangan kerajaan itu adalah kekurangan kita sebagai rakyat. Kita kena perbaiki diri kita sedikit demi sedikit kalau kita nak kerajaan kita jadi lebih baik. Memperbaiki diri itulah amal kebajikan dan mujahadah. Ia memerlukan kesabaran dan masa yang panjang. Tapi ramai yg tak sabar dan lebih suka ikut hasutan syaitan. Maka siang malamdia hanya berfikir nak menjatuhkan kerajaan, sehingga lupa memperelokkan diri dan masyarakat sedangkan itulah caranya kalau sungguh kita mahukan kerajaan yang elok.

DSAI BERSUARA TAPI MASIH LAGU LAMA

Jangan biar segelintir individu rompak kekayaan negara, pesan Anwar

FMT Reporters -March 4, 2020 DR AFIF BAHARDIN DI KELUARKAN DRPD BARISAN EXCO P. PINANG MENGAPA?

ADAKAH KERANA BELIAU MENYERTAI KUMPULAN AZMIN ALI YANG MENGKHIANATI DSAI?

ADAKAH DSAI KIAN DITINGGALKAN DALAM IMPIAN MERANGKUL KERUSI PERDANA MENTERI

Presiden PKR, Anwar Ibrahim.

PETALING JAYA: Presiden PKR Anwar Ibrahim mengeluarkan kenyataan pertamanya hari ini sejak kehilangan peluang memegang jawatan tertinggi kerajaan kepada Muhyiddin Yassin, mengingatkan rakyat bahawa kekayaan negara “tidak boleh dirompak oleh segelintir individu”.

Anwar, yang merupakan bakal perdana Menteri di bawah pemerintahan Pakatan Harapan, juga menggesa mereka mengambil “jalan yang tegas mengikut landasan perjuangan kita” dan mengukuhkan keadilan untuk melindungi hak rakyat.

“Kami diberi peluang untuk bersekongkol dengan kelompok lama yang telah merosakkan negara kita, kita memilih untuk kekal dengan prinsip, yang meninggalkan kita, mengkhianati amanah perjuangan kita,” katanya dalam video 2 minit yang dipaparkan di Facebook hari ini.

“Saya ada dengar dan dapat menghidu apa yang sedang direncanakan dan mengkhianati perjuangan kita, termasuk keadilan, menolak rasuah dan penyalahgunaan kuasa,” katanya.

Anwar juga berkata walaupun hak istimewa orang Melayu dan Islam tidak dipertikaikan, Malaysia sebagai negara yang terdiri daripada pelbagai kaum dan agama, maka ia mesti merangkul semua kaum dan agama.

Tambahnya, ekonomi negara tidak harus menghalalkan rompakan oleh segelintir penguasa tetapi memastikan ia dipacu dengan lebih laju dan meyakinkan tetapi menjamin mengagihan yang saksama.

“Petani, nelayan, pekerja, penjawat awam, terutamanya di peringkat menengah dan rendah sedang mengalami masalah dan tekanan hidup,” katanya.

Oleh itu, katanya, rakyat tidak membiarkan kekayaan negara terus dirompak oleh segelintir individu.